
OPINI
Oleh : Priansyah-Jurnalis GenZ
Pemilihan Rektor Universitas Mulawarman (Unmul) periode 2026-2030 baru saja usai pada 30 September lalu, dan hasilnya lagi trending banget! Prof. Dr. Rudianto Amirta resmi terpilih sebagai rektor baru, tapi bukan kemenangannya yang bikin netizen kampus rame, melainkan plot twist di balik sistem votingnya.
Jadi, begini ceritanya: dalam pemilihan rektor, ada aturan menteri (Kemendikbudristek) yang ngasih “privilese” atau hak suara sebesar 35 persen. Sisanya, yang 65 persen, baru deh dari Senat Unmul.
Kenapa Sistem Ini Bikin Rame?
Di pemilihan awal (penjaringan), kandidat lain unggul. Tapi pas pemilihan akhir, setelah suara kementerian yang 35 persen itu (setara 48 suara dari total 138 suara) ikutan dihitung, Prof. Rudianto Amirta yang akhirnya menang dengan 74 suara, ngalahin kandidat lain, Prof. Abdunnur (64 suara).
Nah, aturan 35 persen ini yang dikritik abis-abisan sama akademisi dan mahasiswa. Pakar Hukum Unmul, Herdiansyah Hamzah (yang akrab disapa Castro), spill kalau aturan ini bisa jadi alat kontrol kekuasaan dari pemerintah pusat. Logikanya gini, bestie : masa suara satu kementerian bisa nentuin 35% hasil, sementara suara puluhan senat kampus (yang paham vibes dan kebutuhan asli kampusnya) harus “berbagi” porsi? Castro khawatir banget ini merusak demokratisasi di kampus, bahkan menyebutnya sebagai “langkah keliru” yang harus dikritik.
Tanggapan Rektor Terpilih
Prof. Rudianto sendiri gak tinggal diam. Beliau udah klarifikasi lewat Zoom meeting sama media kalau suara 35 persen itu bukan cuma soal lobbying politik doang. Beliau juga ngingetin kalau kejadian petahana kalah gara-gara sistem ini gak cuma di Unmul aja, tapi juga baru kejadian di Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Intinya, dinamika pemilihan rektor emang lagi panas di banyak kampus negeri.
Beliau juga berharap kejadian yang bikin chaos ini cukup berhenti di eranya saja dan gak terulang lagi ke depannya.
Gimana menurut lo? Apakah suara menteri 35% ini masih relatable buat dipertahankan di kampus-kampus negeri kita?