
OPINI :
Gen-Z Citizen Journalism
oleh : Riansyah
Harga Sebuah Kursi Penasihat :
“Bagaimana PKS Menukar Identitas Oposisi demi Pengaruh di Kabinet Prabowo”.
Langkah Presiden Prabowo Subianto melantik mantan Ketua Majelis Syura PKS, Dr. H. Salim Segaf Al-Jufri, sebagai salah satu dari 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada 2 Oktober 2026 menjadi penanda resmi masuknya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ke pusat kekuasaan.
Banyak pengamat politik melihat masuknya elite PKS ke lingkar utama pemerintahan sebagai konfirmasi atas prediksi bahwa PKS sudah “lelah menjadi oposisi”. Keputusan ini mengubah peta politik nasional secara signifikan, mengingat PKS merupakan motor oposisi utama selama satu dekade terakhir.
hal ini bisa dibilang sebagai bentuk pragmatisme politik di mana PKS memilih untuk memberi pengaruh langsung dari dalam sistem ketimbang hanya mengkritik dari luar.
Meski penunjukan ini kental dengan nuansa akomodasi politik, Salim Segaf dinilai memiliki rekam jejak teknokratis dan diplomasi yang kuat. Dengan pengalaman sebagai Menteri Sosial (2009–2014), Duta Besar RI untuk Arab Saudi dan Oman, serta latar belakang akademis syariah yang mumpuni, kehadirannya dinilai sebagai strategi Prabowo untuk merangkul kelompok Islam dan memastikan kebijakan luar negeri (khususnya ke Timur Tengah) mendapat pertimbangan yang matang.
Wantimpres era Prabowo diisi oleh 26 tokoh dengan spektrum yang sangat luas—mulai dari purnawirawan jenderal, pengusaha besar, perwakilan ormas keagamaan, hingga kritikus vokal seperti Rocky Gerung.
Dalam komposisi yang sangat beragam ini, posisi PKS melalui Salim Segaf dipandang krusial untuk menjaga keseimbangan suara kelompok Islam konservatif dan memastikan program-program keumatan tetap menjadi prioritas presiden.
Dari sisi internal, berada di dalam kekuasaan adalah tantangan tersendiri bagi PKS. Pimpinan partai harus meyakinkan akar rumputnya bahwa posisi di Wantimpres bukanlah sekadar bagi-bagi kekuasaan, melainkan alat untuk memberikan tindakan nyata dan manfaat langsung bagi masyarakat.
Narasi ini penting bagi PKS menjelang pemilu berikutnya agar mereka tidak kehilangan basis suara tradisional yang selama ini menyukai sikap kritik kepada Prabowo
Bagaimana dinamika PKS yang kini harus bekerja berdampingan dengan tokoh-tokoh yang dulu berseberangan dengan mereka?,
serta apa dampak nyata yang bisa diberikan Salim Segaf bagi pemerintahan?
dan bagaimana mereka bekerja bersama koalisi Partai Gelora sampai 2029?
mari kita nantikan